Ciri-Ciri Khusus dan Penggolongan Platyhelmintes - INIRUMAHPINTAR.com

Ciri-Ciri Khusus dan Penggolongan Platyhelmintes

INIRUMAHPINTAR - Siang hari ini, saya ingin mengajak adik-adik pembaca untuk mengenal salah satu Filum dalam ilmu Biologi. Saya yakin masih ada yang belum pernah mendengar atau belum memahami secara mendalam tentang Filum ini. Bahkan tidak sedikit yang sering mempertanyakan seluk beluk dan informasi lengkap tentang Platyhelmintes di media sosial atau di forum-forum pendidikan. Untuk itu, saya telah menyiapkan bahan materi yang siap untuk dibaca dalam rangka memperkaya pengetahuan dan wawasan. Nah, penjelasan berikut ini berisi uraian lengkap dan detail tentang Ciri-Ciri Khusus dan Penggolongan Platyhelmintes. Selamat belajar!

1. Pengertian Platyhelmintes

Pertama-tama, mari kita ketahui dulu apa itu Platyhelmintes. Apakah ia nama sebuah binatang atau tumbuhan? Dari asal katanya, Platyhelmintes berasal dari bahasa Yunani. Platy artinya pipih dan helmin artinya cacing. Jadi, jika kedua pengertian itu dihubungkan, maka Platyhelmintes dapat diartikan sebagai cacing yang berbentuk pipih. Nah, hewan yang tergolong ke dalam filum Platyhelmintes memiliki ujung posterior (ekor), permukaan ventral dan permukaan dorsal. Cacing ini sebagian besar hidup sebagai parasit dan ada pula yang hidup bebas baik di air laut maupun di air tawar.

2. Ciri-ciri Khusus Platyhelmintes

Cacing yang tergolong Platyhelmintes memiliki ciri-ciri yang khusus. Artinya, ciri-ciri tersebut berbeda dengan cacing-cacing yang lain. Tubuh Platyhelmintes tidak memiliki rangka, sistem pernafasan, dan sistem peredaran darah. Untuk lebih jelasnya, mari kita pahami ciri-ciri khusus Platyhelmintes berikut ini:

a. Struktur Tubuh

Platyhelmintes mempunyai bentuk tubuh bilateral simetris. Tampilan ujung anterior cacing ini tumpul atau membulat, sedangkan ujung posterior berbentuk lancip. Tubuh cacing ini ber-segmen-segmen. Platyhelmintes adalah hewan triploblastik aselomata, artinya hewan ini memiliki 3 lapisan tubuh yaitu ektoderm, mesoderm, dan endoderm, tetapi tidak memiliki rongga (selom). Dinding tubuh bagian luar terdiri atas epidermis yang halus, bersilia atau ditutupi kutikula yang sangat licin. Dinding tubuh bagian dalam dilengkapi dengan lapisan otot yang berkembang baik.

b. Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan yang dimiliki cacing Platyhelmintes belum lengkap. Cacing ini telah mempunyai mulut tetapi tidak mempunyai anus. Dan makhluk kecil ini mempunyai rongga gastrovaskuler yang berperan sebagai saluran pencernaan yang bercabang-cabang sekaligus berfungsi sebagai usus.

c. Sistem Saraf

Sistem saraf mempunyai ganglion di bagian ujung ventral tubuh. Sementara itu di ujung ventral tubuh terdapat satu pasang saraf longitudinal yang mengarah ke bagian posterior. Dan setiap pasangan saraf longitudinal dikaitkan oleh rangkaian saraf lateral.

d. Sistem Reproduksi 

Reproduksi cacing ini berlangsung dengan secara seksual dan aseksual. Cacing ini dikenal memiliki sifat hermaprodit (monoceus), yang berarti dalam 1 tubuh terdapat, dua alat kelamin sekaligus, yaitu alat kelamin jantan dan alat kelamin betina. Jadi, perkembangbiakan seksual dengan cara peleburan sel telur dengan sperma. Telur yang dihasilkan bersifat mikroskopis dan fertilisasi terjadi secara internal, baik sendiri atau fertilisasi silang. Sedangkan reproduksi aseksual berlangsung melalui proses regenerasi tubuh. Artinya, ketika  tubuh cacing golongan ini terpotong-potong maka otomatis akan terbentuk kembali bagian tubuh yang hilang. 


3. Penggolongan Platyhelmintes

Platyhelmintes dapat digolongkan menjadi 3 kelas, yaitu kelas Turbellaria, kelas Trematoda, dan kelas Cestoda. Berikut penjelasan lengkap tentang ciri-ciri dan siklus hidup kelas-kelas tersebut:

a. Kelas Turbellaria

Jenis cacing ini berkembang biak bebas dan tidak dilengkapi dengan alat isap. Salah satu kelas Turbellaria yang populer yaitu golongan Planaria. Planaria umumnya berkembang biak bebas di air tawar, terkadang lebih menyukai berkumpul di bawah daun, atau mengaitkan diri pada batu dan daun-daunan. Selain itu, ada juga cacing jenis ini yang lebih menyukai menempel di atas kayu lembap yang tidak terjangkau cahaya matahari secara langsung.

Panjang tubuh Planaria dapat mencapai 15 mm. Permukaan tubuhnya sangat licin dan halus. Warna tubuhnya cenderung gelap dan pada bagian kepala dilengkapi bintik mata sebagai detektor situasi dan gelap. Sedangkan tubuh bagian luarnya terlindungi oleh epidermis yang terbentuk oleh sel menyerupai kubus atau silindris bersama membran basalis. Membran basalis yaitu membran pengikat epidermis yang elastis. Sementara itu, epidermis di area ventral disempurnakan dengan perangkat silia. Pada a area bawah epidermis, ada lapisan otot yang arah seratnya longitudinal & sirkuler. Selanjutnya, rongga yang terbentuk antara dinding otot dengan organ dilengkapi dengan jaringan parenkim atau jaringan mesenkim.

Planaria mempunyai bintik mata untuk membedakan terang & gelap. Mulut cacing ini terdapat pada permukaan ventral dan terletak di area tengah tubuh serta disempurnakan dengan perangkat taring atau probosis yang condong keluar. Probosis bertujuan untuk menangkap mangsa. 

Sistem pencernaan planaria berturut-turut mulai dari mulut, faring, dan usus. Dari mulut diteruskan ke faring lalu melalui usus yang bercabang ke arah depan dan 2 cabang ke arah belakang. Pertukaran gas antara oksigen & karbohidrat melewati permukaan tubuh (melalui epidermis) sementara sistem ekskresi melewati sel api. Sistem reproduksi berlangsung secara seksual dan aseksual. Sistem reproduksi seksual dari hewan hermafrodit ini menggunakan kelamin jantan berupa testis yang dilengkapi oleh vas efferen & vas differens. Sementara alat kelamin betina berupa ovarium dan kelenjar kuning telur. Dalam proses reproduksi seksual, zigot akan berkembang biak menjadi bentuk dewasa tanpa harus menjadi larva terlebih dahulu.

Reproduksi aseksual sendiri terjadi melalu pembelahan melintang (transversal). Jika Planaria terpotong-potong, ia bisa meregenerasi diri secara otomatis. Organisme lain yang tergolong Platyhelmintes yaitu Acoela, Microstomum, dan Bipalium. 

b. Kelas Trematoda

Kelas Trematoda hidup sebagai parasit pada tubuh vertebrata. Tubuh bagian luar ditutupi kutikula dan tidak memiliki silia. Pada permukaan ventral terdapat alat isap dan mulut. Makanan dari kelas Trematoda berupa cairan tubuh atau jaringan tubuh inang. Dinding tubuh pada kelas Trematoda memiliki otot dan memiliki sistem saraf. Organisme yang banyak dikenal dari kelas Trematoda adalah cacing hati (Fasciola hepatica). Berikut di bahas mengenai Fasciola hepatica

Ciri-ciri Umum

Fasciola hepatica hidup pada saluran empedu hewan ternak. Tubuh berbentuk seperti daun yang membulat pada ujung depan dan lancip pada ujung belakang. Panjang tubuh sekitar 30 mm. Alat isap depan dikelilingi oleh mulut. Mulut dilengkapi dengan faring dan esofagus. Cacing ini memiliki saluran pencernaan yang hanya memiliki satu lubang sebagai mulut dan sekaligus sebagai anus.

Alat ekskresi berupa sel api (flame cell). Sistem saraf dilengkapi sepasang ganglion dengan saraf longitudinal dan saraf transversal. Alat reproduksi pada Fasciola hepatica jantan memiliki sepasang testis dan penis. Testis bercabang-cabang yang terletak di bagian tengah tubuh. Alat reproduksi pada cacing betina adalah ovarium. Ovarium yang bercabang ini memiliki kelenjar kuning telur. Setiap telur yang telah mengalami fertilisasi bercampur dengan kuning telur dan diberi pelindung berupa cangkang.

Telur yang keluar dari tubuh cacing akan melewati saluran empedu yang kemudian sampai di usus halus (intestin). Telur keluar dari tubuh tuan rumah melalui feses. Telur yang berada pada lingkungan yang ideal akan menetas pada waktu 9 hari. Jika suhu dingin, telur dapat bertahan untuk beberapa tahun.

Siklus Hidup

Telur Fasciola hepatica menetas menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Mirasidium akan berenang di air tetapi tidak lebih dari 24 jam. Mirasidium ini harus menemukan inang sementara, yaitu siput air tawar (Lymnaea javanica). Jika tidak menemukan siput air tawar, mirasidium mati. Larva mirasidium menginfeksi siput air tawar disertai menghilangkan silianya. Dalam waktu dua minggu larva mirasidium berkembang menjadi sporokist.

Dalam tubuh siput, sporokist secara partenogenesis berkembang menjadi larva lain yaitu disebut redia. Setiap satu sporokist akan menjadi 3 - 8 redia. Setelah delapan hari, redia berubah menjadi serkaria dengan ekor yang membulat.

Serkaria ini akan keluar dari tubuh siput. Larva akan berenang untuk beberapa jam dan menempel pada rumput air. Pada waktu menempel di rumput air, larva serkaria melepaskan ekor yang dinamakan metaserkaria. Metaserkaria dapat menempel pada rumput sampai beberapa bulan. Jika rumput dimakan oleh hewan ternak, larva ini masuk ke usus halus hewan ternak. Larva ini menembus dinding usus dan bersama aliran darah dapat sampai ke hati hewan ternak untuk beberapa minggu. Setelah dari hati, larva menuju saluran empedu dan menjadi dewasa. Cacing dewasa dalam saluran empedu akan bertelur. Telur tersebut keluar melalui usus. 

Contoh Trematoda lainnya adalah sebagai berikut.

1. Fasciola buski; daerah penyebarannya adalah Cina dan India. Larva dari Fasciola buski hidup pada siput. Sercacia menempel pada daun dan menyerang manusia, babi, dan anjing.

2. Clonorchis sinensis; daerah penyebarannya Jepang, Cina, dan Vietnam. Inang larva dari Clonorhis sinensis adalah siput air dan ikan. Larva metaserkaria terdapat pada otot ikan. Jika manusia memakan ikan yang tidak dimasak atau memasaknya kurang sempurna, dapat terinfeksi oleh cacing ini. Ikan merupakan inang tetap.

3. Paragonimus westermani; daerah penyebarannya Jepang, Cina, Philipina, dan Afrika. Paragonimus westermani memiliki dua tuan rumah yaitu tuan rumah sementara dan tuan rumah tetap.

4. Schistosoma haemotobium; cacing kelas trematoda yang daerah penyebarannya meliputi Afrika, Madagaskar, dan Amerika Selatan.  Cacing ini merupakan parasit pada kucing, anjing, babi, dan hewan ternak lainnya. Panjang tubuh cacing jantan 8 sampai 22 mm, sedangkan cacing betina 14 - 26 mm.

5. Schistosoma japanicum; cacing kelas Trematoda yang daerah penyebarannya di Cina, Philipina, dan Indonesia (di Kalimantan). Inangnya anjing, rodentia, dan babi. Cacing ini dapat menembus usus. 

c. Kelas Cestoda

Cacing Cestoda memiliki bentuk tubuh seperti pita dan bersifat parasit dalam saluran pencernaan Vertebrata. Spesies yang tergolong kelas Cestoda adalah Taenia solium. Berikut ini merupakan ciri-ciri umum Taenia solium (cacing pita).

Tubuh Taenia solium yaitu pipih memanjang seperti pita. Tubuhnya memiliki segmen yang disebut proglotid. Cacing pita dewasa memiliki kepala yang dinamakan skoleks. Di bawah skoleks terdapat leher pendek yang disebut strobilus yang berfungsi membentuk proglotid baru (strobilasi). Ukuran proglotid makin ke ujung makin besar dan mengandung telur yang makin masak. Pada setiap proglotid terdapat sel api, saraf, alat kelamin jantan, dan alat kelamin betina. Tubuhnya tidak memiliki silia.

Bagian luar tubuh ditutupi kutikula, sedangkan dinding tubuh bagian dalam memiliki lapisan otot dan jaringan parenkim. Panjang tubuh Taenia solium adalah 6 - 25 kaki yang dilengkapi dengan empat buah alat isap yang berotot. Alat isap ini dikelilingi oleh kait-kait zat tanduk yang dinamakan rostelum. Alat isap dan rostelum berfungsi untuk melekatkan tubuhnya pada dinding usus tuan rumah.

Cacing ini memiliki saluran pengeluaran yang dilengkapi dengan sel api. Cacing ini tidak memiliki mulut dan saluran pencernaan. Makanan akan diserap langsung melalui permukaan tubuh. Fertilisasi dapat terjadi fertilisasi sendiri atau fertilisasi silang. Telur pada cacing ini terbungkus cangkang yang bentuk oleh ootype. Proglotid yang matang mengandung telur yang telah matang yang di dalamnya sudah terdapat enam kait yang disebut onchoster. Jika telur cacing ini termakan hewan ternak, cangkang telur akan pecah dan onchoster akan masuk ke pembuluh darah atau pembuluh limfe. Pada akhirnya onchoster akan masuk ke otot membentuk kista yang terdiri dari zat kapur yang dinamakan cysticerkus. Manusia yang mengonsumsi daging hewan ternak yang dimasak tidak sempurna dapat terinfeksi oleh cacing Taenia solium.

Lebih dari 1500 spesies cacing menginfeksi Vertebrata dari ikan sampai manusia. Beberapa contoh lain dari kelas Cestoda adalah sebagai berikut.

1) Taenia saginata, cacing ini memiliki panjang tubuh antara 4 - 12 meter. Taenia saginata tidak memiliki rostelum pada skoleksnya. Jumlah proglotid sekitar 2000. Taenia saginata memiliki inang tetap manusia. 

2) Taenia pisiformis; larva cacing ini hidup pada hati kelinci, sedangkan pada waktu dewasa hidup dalam tubuh anjing dan kucing.

3) Diphylidium Caninum; cacing ini memiliki panjang berkisar 15 - 40 cm dengan proglotid 200 buah. Cacing ini hidup pada anjing, kucing, atau manusia. Pada waktu larva, hidupnya pada kutu anjing, kucing, dan manusia.

4) Echinococcus granulosus; cacing ini memiliki ukuran tubuh yang panjangnya 3 - 6 mm. Cacing ini biasa hidup pada anjing, sedangkan larvanya pada hewan ternak.

5) Dibothriocephalus latus; cacing ini memiliki panjang sekitar 20 meter. Pada waktu larva, cacing ini memiliki dua tempat hidup yaitu yang pertama hidup pada Copepoda dan yang kedua pada ikan air tawar.

Demikianlah penjelasan lengkap tentang Pengertian, Ciri-Ciri Khusus dan Penggolongan Platyhelmintes. Semoga bermanfaat!

No comments:

Post a Comment

Terimakasih atas kepatuhannya melakukan komentar yang sopan, tidak menyinggung S4R4 dan p0rnografi, serta tidak mengandung link aktif, sp4m, iklan n4rk0ba, senj4t4 ap1, promosi produk, dan hal-hal lainnya yang tidak terkait dengan postingan. Jika ada pelanggaran, maaf jika kami melakukan penghapusan sepihak. Terimakasih dan Salam blogger!