Refleksi Diri : Memilih, Dipilih, Pilihan, dan Terpilih - INIRUMAHPINTAR.com

Refleksi Diri : Memilih, Dipilih, Pilihan, dan Terpilih

INIRUMAHPINTAR.COM - Dulu, atau hingga saat ini, peran manusia sebagai makhluk berakal budi tidak pernah berhenti memerankan tokoh dalam kehidupan. Entah itu peran yang benar-benar diinginkan atau hanya sekadar kecupan sementara sembari menyiapkan peran baru yang menanti di masa depan, atau peran impian yang sudah nyaman menyertai, termiliki, tergenggam, dan setia menemani.

Semua akan tetap menjadi mungkin.

Nyatanya, setiap waktu peran itu tidak konstan. Selalu ada penyesuaian yang sulit ditebak, bahkan dengan menggunakan rumus matematika dan fisika sekalipun, sulit ditemukan hasil akhir. Terkadang, terkira telah sampai pada jawaban akhir, tidak bisa lagi disederhanakan, ternyata itu baru permulaan.

Memang, hidup bukan matematika.

Hidup itu memiliki level peran bertingkat yang tidak punya rumus pasti. Manusia memiliki potensi untuk memilih, dipilih, menjadi pilihan, atau terpilih. 

Hari ini peran kita memilih.

Esok hari boleh jadi dipilih.

Kita dipilih, karena memang naik kelas menjadi pantas sebagai pilihan.

Lalu, ditetapkan sebagai terpilih.

Idealnya begitu.


Namun, hidup itu serba misterius. 

Bahkan tidak cuma selapis misteri. Satu lapis terungkap, ternyata masih buanyak lapisan misteri tak terhingga yang tidak terjangkau nalar dan logika.

Memang, ada yang diberkahi radar pengetahuan hingga mampu menjangkau berlapis-lapis ilmu dan rahasia kehidupan. Namun, manusia biasa, seperti kita-kita ini, baru selapis saja, telah mati kutu ditumbangkan peran masing-masing.

Dulu, mungkin kamu pikir memilih sebuah pilihan itu keputusan terbaik.

Didukung kekuatan pengetahuan dan pengalamanmu yang ternyata masih penuh keterbatasan.

Namun, karena kamu diyakinkan oleh keadaan, mungkin juga dipaksakan keadaan. Semua terjadi.

Yang dipilih, terbukti bukan benar-benar pilihan. 

Ya, benar, memang terpilih, disaksikan panca indera lapisan pertama.

Lihatlah Sekarang, Rasakan!

Hati nurani tidak bisa berbohong. Meski berusaha mengelak, telah dinampakkan hitam dan putih, sangat jelas, meski Engkau menutup mata dan telinga.
 
Alam pun senantiasa berbisik, meniupkan curahan hati terdalam.
 
Memilih, dipilih, pilihan, dan terpilih hanyalah istilah yang ternyata jauh dari harapan.
 

Jadi, Sementara ini Kusimpulkan

Apapun peranmu di kehidupan ini. Entah kamu punya hak memilih atau dipilih, tetaplah menjadi objektif dalam menetapkan pilihan. Karena kelak, siklus ini akan terulang. Yang memilih dan dipilih akan menyisakan jejak, yang takkan terhapus ditelan zaman.
 
Kartu AS dan Joker yang kamu miliki akan terus terukir dalam ingatan.
 
Meski kartu tersebut dapat menjadi penolong dalam keadaan tertentu, menjadi jalan kemenangan.
 
Namun, di momen yang lain, kartu tersebut sangat mungkin menjadi awal kekalahan beruntun yang tertunda.

Bagaimana Menyikapi Masa Depan

Cukup pantaskan dirimu sesuai peran masing-masing

Tumbuh meninggi tanpa merendahkan

Terus melaju tanpa menjatuhkan.

Saling mendengarkan tanpa meremehkan

Terarah tanpa berbalas menyalahkan
 
Membenarkan tanpa merasa paling benar
 
Melangkah pasti tanpa menyakiti.
 
Engkau memilih atau dipilih
 
Sebagai pilihan atau bukan
 
Itu tidak penting
 
Cukuplah berisi tanpa banyak basa-basi
 
Jadi terpilih bukan karena ambisi

Tetapi karena kamu memang dibutuhkan keadaan.

__

Penutup

Sebuah catatan refleksi diri peddi kesso, tertoreh di atas panrung-panrung awo, ditemani air kelapa muda sembari menyeruput cendol hijau berkuah air gula merah.

Kembali memilih menuangkan ramuan kata sederhana,
 
Untukmu yang terpilih, tetaplah menjadi pilihan.

Soppeng, 03-03-2022.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih atas kepatuhannya melakukan komentar yang sopan, tidak menyinggung S4R4 dan p0rnografi, serta tidak mengandung link aktif, sp4m, iklan n4rk0ba, senj4t4 ap1, promosi produk, dan hal-hal lainnya yang tidak terkait dengan postingan. Jika ada pelanggaran, maaf jika kami melakukan penghapusan sepihak. Terimakasih dan Salam blogger!