7 Fakta Unik dalam ILC 5 Desember 2017 212: Perlukah Reuni?

INIRUMAHPINTAR - Ada hikmah di setiap kejadian. Indonesia Lawyers Club (ILC) di TV One semalam (5/12/2017) menyisakan fakta-fakta unik yang menarik untuk direnungkan sekaligus dijadikan pembelajaran. Membicarakan topik tentang perlu-tidaknya reuni 212 diadakan, ILC menghadirkan 2 kubu, pro dan kontra. Di kubu yang kontra, ada Permadi Arya yang dikenal dengan nama nyentrik  Ust. Abu Janda, Aan Anshory dan Denny Siregar, seorang penggiat sosial media. Sedangkan di kubu pro-212, ada Ustad Felix Siauw, Fahri Hamzah, Fadly Zon, Eggy Sudjana, dan Rocky Gerung. 

Inilah 7 Fakta Unik dalam ILC 5 Desember 2017 212: Perlukah Reuni?

1.  Permadi Arya Mengakui Bahwa Ia Bukan Ustad

Permadi Arya yang memiliki nama alias di media sosial sebagai Ustad Abu Janda Al Boliwudi telah mempertegas dirinya sendiri bahwa ia sebenarnya bukanlah seorang ustad. Jadi, orang-orang yang telah ikut-ikutan mengakui Permadi Arya sebagai seorang ustad kini perlu introspeksi diri. Permadi Arya telah terbukti memperdaya banyak orang. 

2. Permadi Arya Gagal Paham tentang Ilmu Hadist Bendera Rasulullah

Permadi Arya menuduh bahwa peserta 212 disusupi bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang juga dinisbatkan sebagai bendera !S!S. Ternyata setelah dijelaskan oleh Ustad Felix, keberadaan bendera hitam dan putih bertuliskan Lailaha Illallah Muhammadar Rasulullah sebagaimana disebutkan dalam hadist benar sebagai bendera Rasulullah. 

Parahnya lagi, Permadi Arya yang mengaku sebagai muslim justru meragukan hadist tersebut karena menurutnya disusun kembali 200 tahun setelah nabi wafat. Berdasarkan pernyataannya tersebut, banyak netizen kemudian semakin meragukan ilmu dan ke-Islaman Permadi Arya.

3.  Permadi Arya Ketahuan Salah Menunjukkan Bendera Rasulullah

Permadi Arya mengkaim sambil menunjukkan sebuah foto bahwa bendera Rasulullah sesungguhnya adalah sebuah bendera berwarna hijau, yang terpajang di Islamic Museum, Istanbul, Turki. Namun, klaim Permadi Arya ternyata keliru. Ustad Felix sukses membungkam klaim tersebut. 

Faktanya, bendera yang ditunjukkan Permadi Arya adalah bendera Ustmani, bukanlah bendera Rasulullah. Namun, hingga acara berakhir Permadi Arya belum minta maaf atas berita bohong yang ia sampaikan. Mungkin ia akan melakukannya di media sosial. Kita tunggu saja.
7 Fakta Unik dalam ILC 5 Desember 2017 212: Perlukah Reuni?

4.  Denny Siregar Menunjukkan Sudut Pandang Pendanaan 212 yang Keliru

Denny Siregar dalam pernyataannya menilai bahwa setiap kegiatan itu memerlukan dana, termasuk reuni 212 yang baru saja terlaksana. Ia melanjutkan bahwa dana yang begitu besar mengapa tidak dialihkan ke korban-korban bencana Gunung Agung di Bali atau Banjir di Pacitan. 

Ustad Felix kemudian memberikan analogi, bahwa ketika ke restoran, setiap orang memiliki cara berbeda ketika ingin memesan makanan. Ada orang yang fokus kepada harga (berapa harga termurah?) karena mempertimbangkan isi dompetnya, ada juga yang lebih fokus pada rasa (yang paling enak yang mana?) karena ia ingin mencari kepuasan dalam menikmati makanan. 

Begitupun dengan orang yang mengerdilkan reuni 212 dengan tuduhan bahwa ada yang mendanai atau dananya besar, sia-sia, mengapa tidak dipakai untuk membantuk korban bencana alam, secara tidak langsung menunjukkan sudut pandang atau cara berpikirnya bahwa setiap kali ingin melakukan acara besar dan mengundang banyak orang harus selalu menggunakan dana besar. 

Padahal, faktanya, orang-orang yang datang di reuni 212 bukanlah pasukan nasi bungkus. Mereka datang dengan sukarela, panggilan jiwa, dan ikhlas berkontribusi untuk acara tersebut. Malahan, mereka membawa makanan lebih untuk saudara-saudaranya yang lain. Terbukti, dalam sejarah, belum ada perkumpulan di belahan dunia manapun yang bisa menandingi banyaknya peserta reuni 212 (sekitar 7,5 juta). 

Selanjutnya, mengenai dana reuni 212 yang menurut Denny Siregar lebih berfaedah jika dialihkan sebagai dana bantuan bencana justru diluruskan oleh Sujiwo Tejo. Sang budayawan mengatakan bahwa hidup itu kompleks. Di saat satu pihak kekurangan sesuatu, mungkin di pihak lain ada yang berlebih. Kalau demikian katanya, mengapa listrik dipadamkan saja, dan dananya untuk membantu korban bencana alam. Jadi, reuni 212 tidak menghambur-hamburkan uang, toh di saat bersamaan, banyak umat Islam yang turut membantu saudara-saudaranya di Bali dan Pacitan yang mengalami musibah. 

5.  Anshori Tidak Berimbang Menilai Sensitifitas Keberagaman Umat Islam

Aan Anshori yang dikenal sebagai aktivis Jaringan Islam Anti Diskriminasi menyatakan sejumlah hasil penelitian, termasuk dari Wahid Foundation dan PPIM UIN bahwa adanya kecenderungan Umat Islam kehilangan sensitifitas keberagaman. Ditunjukkan dengan adanya keengganan responden umat Islam untuk bertetangga dengan non-muslim. Dan reuni 212 ini secara tidak langsung dianggap sebagai salah satu bentuk kurangnya sensitifitas keberagaman.

Menyikapi pernyataan tersebut, Ustad Felix sebenarnya telah menyentil cara berpersepsi seperti ini melalui analagi memesan makanan di restoran. Ketika seseorang menakar sesuatu dengan sudut pandang, indikator dan kerangka berpikirnya sendiri, tanpa melihat adanya indikator-indikator lain yang mungkin berbeda, maka ia telah melakukan kekeliruan.

Artinya, tidak ideal untuk mevalidkan sebuah pengukuran sensitifitas keberagaman dengan hanya berpusat pada responden Umat Islam, perlu ada keseimbangan memilih responden. Mengapa Anshori tidak mengukur sensitifitas keberagaman itu dari sudut pandang responden non-muslim. Orang Islam telah membuktikan bahwa mereka malah membantu pasangan Kristen yang akan menikah di Katedral pada 212 tahun lalu. Artinya orang Islam sangat toleran kepada pemeluk agama lain. Yang perlu dipertanyakan adalah sebaliknya, seberapa besar tingkat keinginan/keengganan non-muslim mau bertetangga dengan orang Islam. Apakah muslimah berjilbab dan bercadar sudah dibebaskan dari diskriminasi untuk bekerja, kuliah, atau bersekolah di instansi yang dipimpin minoritas?

Jangan sampai, ketakutan atau kecemasan yang dirasakan minoritas itu hanyalah prasangka negatif. Prasangka yang justru tidak perlu dimunculkan di Indonesia. Islam Indonesia bukanlah ter0ris atau anti-Pancasila. Sekalipun ada aksi ter0ris, pastilah ia telah keliru mempelajari Islam. Dan kita semua mengecam dan kompak tidak mengizinkan itu terjadi di NKRI.

Fahri pun menegaskan bahwa Islamophobia itu tidak perlu berlaku di Indonesia. Umat Islam Indonesia sangat toleran dan bisa menjadi percontohan di seluruh dunia.

Reuni 212 salah besar dituduh sebagai aksi intoleran, sebagaimana dituduhkan MetroTV. Dan benar analogi Ustad Felix. Orang yang memesan makanan dengan menanyakan harga terlebih dahulu, berarti ia memang fokusnya pada harga, mungkin ia kekurangan uang dsb. Analoginya, orang melakukan tuduhan intoleran berarti ia sendiri lebih memilih cara pandang intoleran. Kerangka berpikirnya begitu yakin bahwa ketika ada orang Islam berkumpul dalam jumlah besar artinya aksi itu adalah bentuk intoleransi kepada minoritas.

Padahal belum pasti dan memang mustahil. Umat Islam Indonesia tidak demikian. Jangan samakan Umat Islam Indonesia, yang memiliki saham besar pada negara ini sebagaimana kata Ustad Felix dengan pember0ntak !S!S buatan Amerika di Suriah. Mengapa tidak memilih opsi tuduhan yang lain yakni  berprasangka positif agar kita sama-sama bisa berdemokrasi dengan baik.

Rocky Gerung bahkan meyakinkan publik bahwa reuni 212 adalah contoh kemajuan demokrasi di Indonesia. Sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, Presiden Jokowi sangat perlu mengeluarkan sikap dan statement tegas untuk merekatkan furniture negara yang kelihatannya menunjukkan tanda-tanda keretakan. Agar Indonesia semakin solid, hidup damai dan bersatu dalam keberagaman.

6.  Ahmad Dhani Siap Menjadi Panitia Reuni 212 di Tahun Berikutnya

Dalam acara ILC semalam, Ahmad Dhani yang dikenal sebagai musisi ini, menegaskan bahwa dirinya siap menjadi panitia penyelenggaraan reuni 212 di tahun-tahun berikutnya. Menurut ayah Al, El, dan Dul ini, ada kedamaian dan kehangatan tersendiri yang hanya bisa ia rasakan di reuni 212, mirip-mirip dengan haji, katanya. Hal itu benar saja, hanya di reuni 212, orang-orang saling berbagi makanan dalam jumlah besar, berkumpul tapi tidak merusak atau mengotori, juga disiplin dan aman dihadiri anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, bahkan seorang pengidap kanker stadium 4. 

7.  Prof. Mahfud Menegaskan Arti Khilafah dan Pancasila

Prof. Mahfud yang juga diberi kesempatan untuk mengeluarkan pernyataan dalam ILC semalam, meski hanya melalui sambungan video call menambah wawasan publik tentang arti khilafah dan pancasila. Beliau menegaskan bahwa pancasila adalah konsensus final para pendiri bangsa ini untuk menjaga Indonesia dalam keberagaman.

Indonesia adalah khilafah dengan karakter Pancasilanya. Indonesia sangat sesuai dengan syariat Islam. Dan ideologi khilafah tidak perlu menggantikan ideologi pancasila Indonesia.

Ketuhanan yang Maha Esa bagi orang Islam adalah tauhid, dan bagi agama lain, diartikan sesuai keyakinannya masing-masing. Keberagaman ini dilindungi di Indonesia.

Maka dari itu, menurut penulis, untuk hidup di NKRI kita perlu menghormati konstitusi. Bersuaralah sesuai aturan demokrasi. Mari bergandengan tangan dengan penuh toleransi. Tidak elok untuk selalu berprasangka negatif. Reuni 212 hanyalah reaksi kebersamaan umat Islam atas ketidakadilan yang dirasakan. Jadi, menilainya negatif sangat keliru. Lihatnya sejumlah kasus hukum yang tampaknya lebih mudah menjerat umat Islam dibandingkan pihak lain yang jelas pelanggarannya. Untuk itu, benahi ketidak-adilan, perbaiki kesejahteraan rakyat, tegakkan hukum, hapus segala bentuk kemungkaran (jangan malah dibiarkan), insya Allah, umat Islam Indonesia cinta NKRI dan cinta umat-umat lain. Kata Ahmad Dhani, alumni 212 adalah laskar cinta.

Kesimpulan dan Saran

Penulis menyadari bahwa tulisan ini belum lengkap. Masih banyak fakta-fakta unik dalam ILC 5 Desember 2017 212: Perlukah Reuni? semalam. Hanya saja, karena keterbatasan penulis, hanya ada 7 fakta unik yang bisa penulis hadirkan. Biarlah fakta-fakta unik yang lain pembaca simpulkan sendiri. Silahkan, tonton di YouTube untuk mendengarkan versi yang lengkap. Intinya adalah, semoga kita bisa memetik hikmah dan pelajaran dari sejumlah pembicaraan tersebut. Semoga kita bisa semakin mempererat ikatan persatuan dan kesatuan bangsa.

Belajar dari pihak-pihak yang terbukti keliru atau bahkan gagal paham dalam berkomentar, kita semua bisa memetik hikmah tentang pentingnya mencari tahu kebenaran sebelum kita melakukan penegasan, pentingnya ilmu sebelum kita berbicara, pentingnya data-data valid dan berimbang dalam mencari pembenaran, pentingnya berprasangka positif menyikapi sesuatu, pentingnya kita menyadari bahwa tiada makhluk yang sempurna, dan pentingnya kita bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah.

ILC telah menjalankan tugasnya dengan baik sebagai ruang musyawarah terbuka yang berkelas antara kubu pro dan kontra acara reuni 212. Dan dari sudut pemirsa, ILC semalam telah membuka tabir tentang siapa yang patut kita contoh, teladani, dan waspadai. 

0 Response to "7 Fakta Unik dalam ILC 5 Desember 2017 212: Perlukah Reuni?"

Post a Comment

Terimakasih atas kepatuhannya melakukan komentar yang sopan, tidak menyinggung S4R4 dan p0rnografi, serta tidak mengandung link aktif, sp4m, iklan n4rk0ba, senj4t4 ap1, promosi produk, dan hal-hal lainnya yang tidak terkait dengan postingan. Jika ada pelanggaran, maaf jika kami melakukan penghapusan sepihak. Terimakasih dan Salam blogger!

Note: Only a member of this blog may post a comment.