Malaysia Lolos Ke Final, Indonesia Membanggakan

INIRUMAHPINTAR - Laga semifinal Sea Games  2017  yang mempertemukan Indonesia kontra Malaysia berakhir sudah. Indonesia harus mengakui kekalahan atas tuan rumah dengan skor tipis 0:1. Dengan hasil ini,  pupus sudah harapan Indonesia untuk menyumbangkan emas dari ajang sepakbola.

Setelah bermain selama 90 menit, para punggawa timnas u-22 Indonesia tidak juga mampu mencetak gol ke gawang Malaysia padahal sejumlah peluang berhasil tercipta. Terutama di babak pertama, Malaysia benar-benar dalam tekanan. Indonesia sangat bebas melakukan serangan demi serangan dari berbagai arah. Evan Dimas seakan mengurung permainan Malaysia di sisi tengah.

Sedikit berbeda dengan babak 1, di paruh ke-2 Malaysia telah berani bermain melebar dan seringkali melepaskan crossing ke kotak penalti. Sejumlah peluang dari sepak pojok pun acap kali tercipta. Hasilnya, 3 menit menjelang peluit panjang berbunyi, gol sundulan Thanabalan mengubur impian Indonesia ke babak final untuk ke sekian kalinya.

Sementara Ezra yang juga memperoleh beberapa peluang emas terlihat sulit melepaskan tendangan ke arah gawang Malaysia. Bahkan setelah ia digantikan oleh Saddil Ramdani, Indonesia mulai kehilangan sosok penyerang di lini depan. Yabes yang diberi kepercayaan di posisi tersebut bermain kurang meyakinkan dan berkali-kali kehilangan bola dengan mudah.

Laga pun usai dan Indonesia kalah terhormat dengan skor tipis 0:1 dari tim tuan rumah, Malaysia.

Hasil ini mungkin berbeda andai di babak tambahan waktu terjadi penalti

Satu menit sebelum extra time habis, Osvaldo Haay sempat dilanggar di kotak penalti. Sayangnya, wasit tidak menganggapnya sebagai pelanggaran. Hasilnya, Indonesia tidak memiliki satu pun peluang emas setelah gol Malaysia tercipta. Yah, drama sepak bola memang sulit ditebak. Dan malam ini, keberuntungan milik timnas Malaysia.


Apa yang terjadi setelah peluit panjang berbunyi?

Seluruh pemain timnas U-22 Indonesia tersungkur berbarengan ketika wasit meniupkan peluit tanda berakhirnya babak kedua. Mereka linglung penuh kekecewaaan. Bahkan tidak sedikit punggawa garuda muda yang meneteskan air mata kesedihan. Terlihat Saddil Ramdani begitu meratapi kekalahan ini.

Ada kejadian menarik setelah babak ke-2 usai

Ketika para pemain Malaysia beserta official merayakan kemenangan, ada sebagian pemain Malaysia yang ikut menghibur para pemain timnas Indonesia di lapangan. Saya melihatnya sebagai bentuk fair play dan toleransi antara dua negara besar yang memang sepatutnya menjaga jalinan persahabatan.

Evan Dimas sendiri tampak bertukar kaos dengan salah satu pemain Malaysia. Itulah pertanda anak-anak asuh Luis Milla semakin dewasa menghadapi kekalahan. Mereka kalah tetapi tetap berbesar hati. Kami sebagai pencipta bola tanah air pun dibuatnya bangga.

Kalah menang adalah dua hal yang memang semestinya siap diterima di akhir sebuah pertandingan. Saya melihat itu telah hadir di sanubari timnas U-22 Indonesia malam ini (26/8/2017). Mereka memang tidak lolos ke fase final, tetapi usaha dan permainan mereka yang attractive tidak mengecewakan. Publik Indonesia sangat terhibur.

Hal menarik lainnya yaitu wasit yang memimpin pertandingan antara Indonesia versus Malaysia sukses menjalankan tugas dengan profesional. Ia termasuk pengadil yang lunak dan bijak. Tidak ada satu pun pelanggaran yang berbuah kartu kuning dan merah.

Apresiasi dan ide kecil untuk Luis Milla

Saya sebenarnya tidak memiliki kapasitas untuk mengajari pelatih sekelas Luis Milla. Oleh karena itu, saya tidak ingin mencampuri bagaimana ia meracik timnas Garuda Muda Indonesia. Saya malah sangat mengapresiasi dan menyukai caranya mendidik Evan Dimas dkk. Saya hanya ingin sedikit memberikan usulan. Jika memungkinkan, untuk perhelatan sepak bola selanjutnya, rekrutlah satu atau dua penyerang tambahan untuk melapis Marinus dan Ezra. Saya melihat malam ini, kita kehilangan sosok penyerang di akhir babak kedua. Andai saja ada pemain pengganti sekelas Muchlis Hadi Ning Syaifulloh di jajaran pemain Timnas U-22 Indonesia, kemungkinan hasil akan berbeda.

Lagi pula kita belum memainkan Hansamu di lini belakang karena akumulasi kartu sebagai buah pelanggaran yang semestinya tidak perlu ia lakukan di laga sebelumnya. Dari sinilah, Luis Milla wajib lebih bersabar mendidik anak asuhnya untuk bermain dewasa dan menghindari pelanggaran-pelanggaran yang tidak perlu. Biarlah wasit yang bekerja.


Apakah Indonesia membanggakan?

Walau timnas Indonesia kalah malam ini, saya sangat bangga dengan para punggawa timnas U-22. Tak terkecuali seluruh official dan pelatih. Mereka telah berjuang mati-matian. Suatu saat, dengan line up yang lebih baik, timnas Indonesia akan mengguncang Asia Tenggara, Asia, dan bahkan dunia. Tinggal menunggu waktu itu tiba. Mari kita mendoakan yang terbaik untuk Indonesia.

#Respect for Malaysia dan Indonesia

Prediksi para pengadu-domba di dunia maya sebelumnya, yang menggadang-gadang hadirnya kericuhan dalam laga malam ini, ternyata tidak terjadi. Indonesia dan Malaysia bermain saling respect. Tiada upaya untuk benar-benar memicu perang dingin. Wasit pun bermain penuh integritas. Untuk itu, dalam pertandingan malam ini, Indonesia memang kalah, dan kami terima dengan bangga. We show respect for Malaysia dan Indonesia. Keduanya tidak boleh melihat kekalahan atau kemenangan sebagai pemicu persahabatan. Ingat! Indonesia dan Malaysia adalah dua bangsa serumpun yang sepatutnya menjaga persaudaraan hingga kapanpun. 

0 Response to "Malaysia Lolos Ke Final, Indonesia Membanggakan"

Post a Comment

Terimakasih atas kepatuhannya melakukan komentar yang sopan, tidak menyinggung S4R4 dan p0rnografi, serta tidak mengandung link aktif, sp4m, iklan n4rk0ba, senj4t4 ap1, promosi produk, dan hal-hal lainnya yang tidak terkait dengan postingan. Jika ada pelanggaran, maaf jika kami melakukan penghapusan sepihak. Terimakasih dan Salam blogger!

Note: Only a member of this blog may post a comment.